Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jalanku

Semua tetap berputar, ya, waktu
Yang abadi ketika tak ada yang benar-benar disembunyikan.
Namun ketika kuberjalan, ada banyak persoalan yang melintas dalam benak ini.
Ketika itu banyak hal yang harus kuhadapi.
Mulai dari bayangan yang terlintas dipenglihatanku.
Mengikuti ketakutan dalam hati kecilku.

Dan Hujan


Dan bila hujan turun lagi
Seperti senyuman lembutmu
Terkadang meneduhkan pemilik hati
Aku berhenti sejenak,karena tiba-tiba aku memikirkanmu

Adakah dirimu yang selalu menunggu
Dan adakah dirimu yang siap menunggu tuk kesekian waktu
Didalam kesepian yang tak berujung, mungkin aku akan berubah
Dan bila itu sulit untukmu, aku akan bertawakal

Pandangan Pertama

kau membuatku tersenyum
mungkinah aku sedang bahagia
mungkinkah aku sedang gila
ini sangat cantik

kau mencoba membri ruang
kau aneh
kau terlalu
bisakah mencoba ini-itu denganmu

dan aku tidak mengerti
aku tidak paham
tentang hariku disaat kau tak disampingku
aku membencimu, aku tidak mampu

lalu bagaimana ini bisa
kau berjalan bersama yg itu
oh...aku benar-benar pusing
kau selalu dipandangku

ini benar-benarsulit
juga mudah sakit
semoga kita menjauh
walau takdir menakdirkan kita dekat

kau terlalu indah untuk kunamai cinta
seperti saat tatapan pertama kita
kau selalu bisa membuatku bibirku ini tersenyum
meski aku tahu cintaku bukan untukmu

Bayangan Rindu



Taukah engkau disaat malamku tiba
Sebuah rasa yang tersimpan dalam dada
Mengikis raga yang tak berdaya
Aku tersulut api rindu

Pertengkaran Egois






Kamu yang diam
Kamu yang membisu
Bayang-bayangmu menganggu
Bila ku usir tak pernah mampu

Puisi Hujanku

















Sambil berlari
Sekarang pun hujan
Bila kamu tak mendengar
Pasti kita salah paham

Kabut Putih

               Kabut Putih  < Lanuer Gulo>


Langit putih dan lembah hijau
Membawaku terbang dalam nyanyian 
Aku ingin mengajakmu kesana
Kedalam kesunyian malam yang indah

Dunia Sejujurnya fana sekali
Bila bayangan itu tak ada
Kabut, namun itu bukan kabut
Itu sebuah perasaan yang berkemelut

Kau tahu, pancaran pesonamu menerpaku
Jika tidak, pipiku tak lagi memerah
Karena itu kau anggap aku ceroboh
Tersipu malu, tapi aku sekedar menjagamu

Aku lelah dengan senja palsu
Dengan kabut itu, oh gerahku
Jika aku tak bisa memusnahkanmu
Aku akan jadi kebohonganmu

Satu hal yang harus kau yakini
Jangan pernah mengkhawatirkanku
Walau apapun yang terjadi
Aku akan selalu bersamamu
Bersama kabut putih
                                      

Asal Mula Marga di Pulau Nias

Konon, Lowalangi (Mula Jadi Na Bolon bagi orang Batak)menciptakan langit berlapis Sembilan. Lalu menciptakan pohon kehidupan bernama Tora’...